Jumat, 13 Januari 2017

Cara Menghitung dan Menentukan Harga Jual Produk berdasarkan Bill of Material atau Basic Receipe

 
Bill of Material umum sudah dikenal dalam dunia produksi, pada prinsipnya hampir sama dengan Receipe Costing, namun hanya berbeda dunia industrinya. Pada umumnya Bill of Material (BOM) lebih dikenal di dunia Manufacture, Garment dll. namun untuk Receipe Costing biasa di gunakan pada dunia F&B (Food and Beverage) dan masyarakat mengenalnya sebagai Restaurant, Cafe, Bistro, Catering, Counter dan sebagainya. sebelum infopintar.com memberikan sedikit informasi terkait Bill of material dan Receipe Costing izinkanlah infopintar.com mendefinisikan terlebih dahulu.

Bill Of Material adalah : Definisi produk akhir yang terdiri dari daftar  item, bahan, atau material  yang  dibutuhkan  untuk merakit, mencampur  atau memproduksi  produk akhir. 
di bedakan menjadi dua macam yaitu :
  1. Single Level Bill of Material
  2. Multilevel Bill of Material
Receipe Costing adalah : Seluruh biaya (cost) yang dikeluarkan untuk dapat menghasilkan suatu menu makanan dan minuman dengan standart resep tertentu dari mulai bahan, pengolahan, hingga menjadi menu makanan dan minuman siap jual per satu porsi. dan membentuk nilai anatara lain :
  1. Food Costing
  2. Beverage Costing
  3. F & B Costing
  4. COGM (Cost of Good Material)
  5. COGS (Cost of Good Sold) atau biasa dikenal HPP
  6. P&L (Profit and Lost)
Setelah kita mengetahui dari definisi tersebut, kita bisa sesuaikan metoda mana yang kita butuhkan sesuai dengan kebutuhan kita, karena master perhitungan Bill Of material dengan Receipe Costing berbeda.

Pada kesempatan kali ini infopintar.com akan memberikan informasi seputar Receipe Costing dahulu namun nantinya menyusul untuk Bill of Materialnya, jadi ikuti terus informasi terkini dari infopintar.com
Resep atau Receipe adalah faktor utama sebagai dasar perhitungan basic costing dari suatu product (produk).
  
Di dunia Hospitality atau industri Makanan dan minuman sangat aktif dalam melakukan control atas Basic Cost Product, karena dengan begitu bisa melakukan proses controling secara cepat dan tepat terkait perubahan harga material atau bahan mentah, yang memang pada umumnya nilai atas suatu bahan material selalu berubah-ubah karena banyak sumber atau faktor-faktor yang mempengaruhinya seperti proses distribuasi, faktor alam dan cuaca, gagal panen, Kekosongan barang, keterbatasan volume Import, sehingga para supplier atau produsen bisa setiap saat melakukan perubahan atas harga jual barang materialnya.
Resep dasar atau Basic Cost tidak serta merta datang  dengan sendirinya, banyak pihak yang terlibat didalamnya, sehingga bisa terwujud perhitungan tersebut. ketika produksi membuat resep, dan diserakan kepada Cost control bukan hanya sekedar resep masakan yang umumnya beredar dimasyarakat, tetapi lebih berstandard yang meliputi antara lain :
  1. Penggunaan bahan material bruto dan nettonya
  2. Dokumntasi product terkait proses pembuatan dan pengolahannya yang terdiri dari WIP Product atau GIP (Good in Process) dan Finishing Good Product
  3. Pengelompokan type dan jenis serta kategori produk
  4. Nama atau Identitas Product
  5. Timing Process
  6. Approved atau persetujuan
Setelah itu dibuat, maka baru selanjutnya masuk ke tahap proses costing, dimana yang melakukan perhitungan Receipe Costing bukan karyawan atau staff biasa, Cost control harus orang yang betul-betul mengerti SOP nya, karena ini adalah kunci awal dari Profit and Lost perusahaan.
Kemudian Cot Control akan menarik data barang disystem terkait PO (Purchase Order) dan PB (Penerimaan Barang) yang dibuat oleh Purchasing dan Logistik, karena dengan begitu bisa melihat nilai atau harga dari suatu barang material yang dibeli, dan apabila nilai harga tersebut berlebih Costcontrol akan melakukan verifikasi dari external. sehingga dapat ditentukan harga terbaik dari suatu barang dan tentunya sesuai standard Purchase yang telah ditentukan perusahaan. setelah mendapat harga update dari suatu material kemudian Cost control memasukan harga tersebut kedalam master receipe cost (sudah di approved oleh pimpinan perusahaan), mengapa harus sudah memiliki master receipe cost, karena setiap perusahaan sudah menetukan nilai-nilai atau persentase atas masing-masing productnya atau kategori produknya.
Berikut ini adalah contoh dari Master Receipe Costing, dimana di butuhkan komponen-komponen pendukungnya seperti :
  1. Item Product/Barang 
  2. Harga Product/Barang
  3. Identifikasi Product/Barang
  4. Bruto dan Netto
  5. Total Basic Cost
  6. Persentase Lost Factor
  7. Persentase Overhead yang meliputi : Utilities, Labor, Miscellaneous, Material Supply, Sevice Cash dan mungkin bila diperlukan Inclusive Tax.
  8. Standard Persentase Potensial selling price (3Choice)
  9. Sugestion Selling Price
  10. Aproved (persetujuan)
klo semua unsur atau komponen-komponen tersebut sudah ada, maka kita baru bisa menghasikan output Selling Price atau biasa disebut Harga Jual Product.
Berikut infopintar.com berikan contohnya :
Identifikasi :

Receipe System :


Receipe Costing dan Approved :



Mungkin setelah melihat gambar tersebut sudah bisa kita analisa bahwa untuk menentukan harga jual product, tidak bisa kita lakukan dengan perkiraan saja atau dengan perhitungan biasa saja. karena tentunya kita berespektasi atau berkeinginan tinggi bisa menjual banyak product yang kita jual, sehingga akan mendapatkan profit yang besar dan memajukan atau mensejahterakan seluruh element perusahaan. karena hal terpenting lain selain dari Receipe Costing, kita harus mempertimbangkan faktor external yaitu kompetitor atau pesaing usaha dengan product yang sama, serta faktor Trend di masyarakat yang selalu berubah-ubah mengikuti perkembangan. sehingga kita akan lebih bijak dalam memproyeksikan strategi pasar atau marketing, kapan bisa ditentukan atau dilakukan promo, dan berapa nilai maximal diskon yang bisa diberikan kepada customers atau pelanggan. karena masyarakat saat ini sangat tertarik yang namanya harga murah, diskon, dan free (gratisan).

Mungkin infopintar.com terlalu cepat melebar dari pembahasan, tapi tujuannya adalah infopintar.com mau menyampaikan benang merah atas apa yang kita lakukan dan kita tentukan (dari awal hingga akhir).

Berikut ini infopintar.com berikan referensi tambahannya sebagai berikut :

HARGA DAN PENETAPAN HARGA
Harga mengandung pengertian, suatu nilai tukar dari produk barang atau pun jasa yang umumnya dinyatakan dalam satuan moneter (Rupiah, Dollar, Yen dll)
Dalam dunia bisnis harga mempunyai banyak nama, sebagai contoh dalam dunia perdagangan produk disebut harga, dalam dunia perbankan disebut bunga, atau dalam bisnis jasa akuntansi, konsultan disebut fee, biaya transportasi taxi, telepon disebut tariff sedangkan dalam dunia asuransi disebut premi.
Menurut Kotler (2001:439) Harga adalah sejumlah uang yang dibebankan atas suatu produk atau jasa, atau jumlah dari nilai tukar konsumen atas manfaat-manfaat karena memiliki atau menggunakan produk atau jasa tersebut.
Monroe (1990) menyatakan bahwa harga merupakan pengorbanan ekonomis yang dilakukan pelanggan untuk memperoleh produk atau jasa. Selain itu harga adalah salah satu faktor penting bagi konsumen dalam mengambil keputusan untuk melakukan transaksi atau tidak.
Berdasarkan definisi harga diatas maka dapat disimpulkan harga adalah sejumlah uang yang harus dikeluarkan oleh konsumen untuk mendapatkan produk atau jasa yang dibelinya guna memenuhi kebutuhan maupun keinginannya dan umumnya dinyatakan dalam satuan moneter (Rupiah, Dollar, Yen dll).
Sedangkan penetapan harga adalah suatu proses untuk menentukan seberapa besar pendapatan yang akan diperoleh atau diterima oleh perusahan dari produk atau jasa yang di hasilkan.
Penetapan harga telah memiliki fungsi yang sangat luas di dalam program pemasaran. Menetapkan harga berarti bagaimana mempertautkan produk kita dengan aspirasi sasaran pasar, yang berarti pula harus mempelajari kebutuhan, keinginan, dan harapan konsumen.
Dalam penetapan harga, produsen harus memahami secara mendalam besaran sensitifitas konsumen terhadap harga. Menurut Roberto pada buku Applied Marketing Research, bahwa dari hasil penelitian menyebutkan isu utama yang berkaitan dengan sensitifitas harga yaitu; elasitas harga dan ekspektasi harga.
Sedangkan pengertian dari elasitas harga adalah:
  • Konsumen cenderung memberikan respon yang lebih besar atas setiap rencana kenaikan dibandingkan dengan kenyataan pada saat harga tersebut naik.
  • Konsumen akan lebih sensitive terhadap penurunan harga dibandingkan dengan kenaikan harga.
  • Elastisitas konsumen akan berkurang ketika melakukan shopping dengan teman atau dipengaruhi oleh sales person.
Dengan kata lain harga dan penetapan harga adalah suatu proses yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk memberikan nilai suatu produk atau jasa dengan mengkalkulasikan terlebih dahulu segala macam biaya yang dikeluarkan untuk memperoleh keuntungan serta mempertimbangkan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan selain harga.
TUJUAN PENETAPAN HARGA
Dalam teori ekonomi klasik, setiap perusahaan selalu berorientasi pada seberapa besar keuntungan yang akan diperoleh dari suatu produk atau jasa yang dimilikinya, sehingga tujuan penetapan harganya hanya berdasarkan pada tingkat keuntungan dan perolehan yang akan diterimanya. Namun di dalam perkembangannya, tujuan penetapan harga bukan hanya berdasarkan tingkat keuntungan dan perolehannya saja melainkan berdasarkan pertimbangan-pertimbangan non ekonomis lainnya.
Berikut adalah tujuan penetapan harga yang bersifat ekonomis dan non ekonomis;
1.      Memaksimalkan Laba
Penetapan harga ini biasanya memperhitungkan tingkat keuntungan yang ingin diperoleh. Semakin besar marjin keuntungan yang ingin didapat, maka menjadi tinggi pula harga yang ditetapkan untuk konsumen. Dalam menetapkan harga sebaiknya turut memperhitungkan daya beli dan variabel lain yang dipengaruhi harga agar keuntungan yang diraih dapat maksimum.
2.      Meraih Pangsa Pasar
Untuk dapat menarik perhatian para konsumen yang menjadi target market atau target pasar maka suatu perusahaan sebaiknya menetapkan harga yang serendah mungkin. Dengan harga turun, maka akan memicu peningkatan permintaan yang juga datang dari market share pesaing atau kompetitor, sehingga ketika pangsa pasar tersebut diperoleh maka harga akan disesuaikan dengan tingkat laba yang diinginkan
3.      Return On Investment (ROI) / Pengembalian Modal Usaha
Setiap usaha menginginkan tingkat pengembalian modal yang tinggi. ROI yang tinggi dapat dicapai dengan jalan menaikkan profit margin serta meningkatkan angka penjualan.
4.      Mempertahankan Pangsa Pasar
Ketika perusahaan memiliki pasar tersendiri, maka perlu adanya penetapan harga yang tepat agar dapat tetap mempertahankan pangsa pasar yang ada
5.      Tujuan Stabilisasi Harga
Dalam pasar yang konsumennya sangat sensitif terhadap harga, bila suatu perusahaan menurunkan harganya, maka para pesaingnya harus menurunkan pula harga mereka. Kondisi seperti ini yang mendasari terbentuknya tujuan stabilisasi harga dalam industri-industri tertentu (misalnya minyak bumi). Tujuan stabilisasi dilakukan dengan jalan menetapkan harga untuk mempertahankan hubungan yang stabil antara harga suatu perusahaan dan harga pemimpin industri (industry leader)
6.      Menjaga Kelangsungan Hidup Perusahaan
Perusahaan yang baik menetapkan harga dengan memperhitungkan segala kemungkinan agar tetap memiliki dana yang cukup untuk tetap menjalankan aktifitas usaha bisnis yang dijalani.
Tujuan-tujuan dalam penetapan harga ini mengindikasikan bahwa pentingnya perusahaan untuk memilih, menetapkan dan
membuat perencanaan mengenai nilai produk atau jasa dan tujuan yang ingin dicapai oleh perusahaan atas produk atau jasa tersebut.
METODE PENETAPAN HARGA
Setelah perusahaan menentukan dan menetapkan tujuan yang akan dicapai, maka langkah atau tahapan selanjutnya adalah menentukan metode penetapan harga. Secara umum metode penetapan harga terdiri dari 3 macam pendekatan, yakni ;
1.      Penetapan harga berdasarkan biaya
a)      Penetapan Harga Biaya Plus
Didalam metode ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung jumlah seluruh biaya per unit ditambah jumlah tertentu untuk menutupi laba yang dikehendaki pada unit tersebut ( margin )
Rumus ; Biaya Total + Margin = Harga Jual
b)     Penetapan Harga Mark-Up
Untuk metode Mark-up ini, harga jual per unit ditentukan dengan menghitung harga pokok pembelian per unit ditambah ( mark-up ) jumlah tertentu
Rumus ;  Harga Beli + Mark-Up = Harga Jual
c)      Penetapan Harga BEP ( Break Even Point )
Metode pentapan harga berdasarkan keseimbangan antara jumlah total biaya keseluruhan dengan jumlah total penerimaan keseluruhan.
Rumus ; BEP => Total Biaya = Total Penerimaan
2.      Penetapan Harga berdasarkan Harga Pesaing/Kompetitor
Penetapan harga dilakukan dengan menggunakan harga kompetitor sebagai referensi, dimana dalam pelaksanaannya lebih cocok untuk produk yang standar dengan kondisi pasar oligopoli. Untuk menarik dan meraih para konsumen dan para pelanggan, perusahaan biasanya menggunakan strategi harga. Penerapan strategi harga jual juga bisa digunakan untuk mensiasati para pesaingnya, misalkan dengan cara menetapkan harga di bawah harga pasar dengan maksud untuk meraih pangsa pasar.
3.      Penetapan Harga Berdasarkan Permintaan
Proses penetapan harga yang didasari persepsi konsumen terhadap value/nilai yang diterima (price value), sensitivitas harga dan perceived quality. Untuk mengetahui value dari harga terhadap kualitas, maka analisa Price Sensitivity Meter (PSM) merupakan salah satu bentuk yang dapat digunakan. Pada analisa ini konsumen diminta untuk memberikan pernyataan dimana konsumen merasa harga murah, terlalu murah, terasa mahal dan terlalu mahal dan dikaitkan dengan kualitas yang diterima.
STRATEGI PENETAPAN HARGA
Strategi penetapan harga adalah tahapan dimana perusahaan mengklasifikasikan dan menggolongkan produk atau jasa yang dihasilkannya merupakan ‘produk baru’ yang belum memiliki konsumen loyal/tetap atau ‘produk yang telah beredar’ yang telah memiliki pangsa pasar tersendiri.
Strategi penetapan harga ini juga berhubungan dengan siklus kehidupan produk (Product Life Cycle) dimana suatu produk memiliki empat tahapan utama yakni, Perkenalan, Pertumbuhan, Kematangan dan Penurunan.
Secara khusus strategi penetapan harga ini terdiri dari ;
Produk Baru
Dalam menetapkan strategi penetapan harga yang efektif untuk produk baru atau tahap perkenalan ini terdapat 2 (dua) alternatif strategi penetapan harga, yaitu
1.      Harga Mengapung (Skimming Price)
Memberikan harga tinggi untuk menutup biaya dan menghasilkan labamaksimum (perusahaan dapat meyakinkan konsumen bahwa produknya berbeda dengan produk sejenis yang lain.)
Pendekatan skimming sangat efektif jika terdapat diferensiasi harga pada segmen tertentu dan pesaing relatif sedikit. Skimming juga dapat dimanfaatkan untuk membatasi permintaan sampai perusahaan merasa siap untuk melakukan produksi masal. Apalagi skimming dapat meningkatkan nilai produk menjadi sangat prestisius.
2.      Harga Penetrasi        
Memberikan harga rendah untuk menciptakan pangsa pasar dan permintaan, strategi ini dapat diterapankan pada situasi pasar tidak terfragmentasi ke dalam segmen yang berbeda, serta produk tersebut tidak mempunyai nilai simbolis yang tinggi. Pendekatan ini juga efektif terhadap sasaran pasar yang sensitif harga.
Produk Yang Telah Beredar
Strategi penetapan harga untuk produk yang telah beredar ini tentunya tidak terlepas dari posisi produk atau jasa tersebut dari siklus kehidupan produk, dalam hal ini tahapan siklusnya berada pada 3 (tiga) tingkatan berikutnya setelah perkenalan yakni;
1.      Tahap Pertumbuhan
Pada tahap pertumbuhan ini ditandai dengan penjualan meningkat disertai munculnya pesaing. Pada awalnya terjadi pertumbuhan yang cepat, strategi yang diterapkan adalah tetap mempertahankan harga produk/pasar. Ketika pertumbuhan melambat, terapkan strategi harga agresif ; menurunkan harga untuk mendorong penjualan sekaligus menghadapi persaingan yang semakin ketat.
2.      Tahap Kematangan
Pada tahap kematangan, fleksibilitas harga merupakan kunci efektivitas strategi penetapan harga. Pada tahapan ini perusahaan harus benar-benar responsif terhadap situasi pasar, konsumen maupun pesaing. Strategi penetapan harga dapat menggunakan ‘psikologis konsumen’ maupun ‘pemotongan harga’ (diskon), sehingga perusahaan dapat menjaga loyalitas konsumen (pangsa pasar) dan meningkatkan jumlah permintaan dan keuntungan yang diperoleh.
3.      Tahap Penurunan
Tahap penurunan produk atau jasa ditandai dengan menurunnya jumlah permintaan secara terus-menerus, sebagai tahap terakhir daur hidup produk terdapat dua alternatif langkah utama yang dapat dipilih. Pertama, strategi diskonting (pemotongan harga) Kedua, mempertahankan harga tetapi memotong biaya-biaya yang berhubungan dengan produk, terutama pengeluaran untuk promosi.
 Sumber dari  : 
https://ekonomiana.wordpress.com/2013/06/19/penetapan-harga-tujuan-strategi-dan-berbagai-macam-pendekatannya/







Demikian yang bisa infopintar.com berikan, ikuti terus informasi terkini lagi dari infopintar.com dan semoga apa yang infopintar.com sampaikan dapat bermanfaat untuk semuanya.
Terima kasih



EmoticonEmoticon

Artikel Pilihan